Video

Loading...

Wednesday, 8 February 2012

Cinta Dalam Kaidah Fisika

Cinta adalah komposisi rasa dalam hati yang meradiasikan
gelombang cahaya yang berbeda bagi setiap insan yang bisa
merasakannya, spektrum gelombang cinta beraneka warna serta
memiliki panjang gelombang yang berbeda, juga berasal dari
dimensi ruang dan waktu yang berbeda pula (Cinta dalam Kaidah
Fisika).

Cinta membuat pegas jantung bervibrasi, seperti atom-atom
diatomik dalam molekul yang tak pernah berhenti bergetar.
Semakin besar getaran cinta semakin membara temperatur cinta
yang membakar jantung ini. Temperatur cinta yang membara
mampu memperbesar energi kinetik benih cinta. Energi kinetik cinta
inilah yang selalu ingin membawa kita selalu berada dekat darinya.

Cinta adalah sinyal-sinyal bermuatan dalam hati yang terciptakan
untuk memberikan ketenangan jiwa bagi sesama, alam, dan dunia.
Cinta dimunculkan untuk memelihara alam yang sudah diciptakan
Tuhan Maha Semesta.
Cinta adalah produk dari osilasi muatan-muatan kasih yang
membangkitkan energi positif dan juga energi negatif dalam jiwa,
cinta sama seperti elektron dalam logam yang mudah terpengaruh
bujuk rayu dan cumbu secuplik medan listrik. Akibatnya, cinta
tereksitasi dari hati dan terionisasi manifestonya menjadi sikap dan
perilaku seseorang. Cinta bertipikal sama dengan elektron pada
material semikonduktor yang bermunajat pada pita valensi yang
bisa bertransisi ke pita konduksi jika mendapat energi luar maupun
medan listrik yang berarti cinta dapat mengubah posisinya bila
energi menyapanya.

Pantulan cahaya cinta dapat membuat otot-otot mata menjadi
lemah, sehingga lensa mata kita tak dapat lagi mencembung atau
mencekung ketika bayangan cinta melintas. Itu membuat bayangan
cinta selalu terlihat indah di otak kita. Tetapi aku tak pernah
kehilangan cara untuk melihatnya bayangan cinta agar tetap tegak,
nyata, dan diperbesar. Dengan menggunakan lensa cembung yang
memiliki panjang fokus positif, ku letakkan cinta di ruang dua atau
tiga. Dari sinilah bayangan nyata, tegak dan diperbesar akan selalu
terpatri dalam hati.

Semakin besar emisivitas cinta (e), semakin besar energi radiasi
pesona cinta (P). Karena emisivitas cinta berbanding lurus dengan
energi cinta, Ini dapat membuat otak
kita tidak bisa berpikir rasional. Energi radiasi yang besar
mempengaruhi atom-atom dalam hati kita bergetar sangat cepat,
menimbulkan induksi magnet cinta dalam hati. Induksi magnetik
cinta itu sangat berdaya, potensionya bisa menarik apa saja. Bukan
hanya besi namun juga hati yang lunak dapat terseret dalam vortex
arusnya.

Saat induksi magnetik cinta (B) tumbuh, partikel-partikel cinta (q)
tidak bisa diam. Partikel-partikel cinta tertarik oleh gaya Lorentz
cinta (F) sebesar F = B . q. v. Gaya Lorentz cinta inilah yang
menghasilkan energi rindu saat jauh darinya. Semakin jauh darinya
(s makin besar), makin besar pula energi rindu yang tertahan,
karena energi rindu W adalah F x s. Itulah sebabnya cinta
berbanding lurus dengan energi rindu.

Saat cinta tumbuh dalam kalbu, getaran-getaran partikelnya
beresonansi menghasilkan frekuensi cinta. Frekuensi ini yang
mendivergensi gelombang nurani untuk berdenyut impulsif bahkan
bergelora bak gelombang tsunami di samudera kalbu.

Published with Blogger-droid v2.0.1

No comments:

Post a Comment